Sabtu, 29 Oktober 2016

Galauku Pada-Mu


Galauku Pada-Mu
Oleh: Latiefah Hidayatun
Sendiri itu happy. Sendiri bukan berarti sepi. Jika perempuan seusiaku sudah pada punya teman. Teman dalam tanda kutip maksudnyaa. Aku sih biasa-biasa saja dengan kesendirian ini. Yang mereka bilang sendiriku adalah jomblo sejati. Tak apalah...yang penting aku happy.
Jika kebanyakan perempuan menganggap bahwa berduaan dengan kekasihnya adalah sesuatu yang romantis. Menurutku itu salah besaaar!! Itu bukan romantis namanya, tapi lebih ke hororr. Kenapa? Mereka gak tau aja, ada banyak setan yang mengelilingi mereka. Hiiihhh...serreeemmm.
Hal yang paling romantis dalam versiku adalah saat kamu bisa berduaan dengan sang Maha Cinta, sang pemilik cinta itu sendiri. Bisa sharing banyak hal. Berkeluh kesah apapun. Memohon apapun. Semua akan diberikan yang terbaik untuk kita. Karena Dia tidak akan eman memberikan semuanya jika itu yang terbaik untuk kita. Tidak ada rasa tersakiti jika kita bisa mencintaNya dengan tulus. Yang ada adalah ketentraman hati untuk mengisi dan menjalani cerita hidup ini. aku menyadari, bahwa aku sangatlah bergantung padaNya. Dalam memutuskan segala hal. Terutama apa yang sedang ku alami saat ini. Dan galau ku hanya padaNya.
Masih menatap pagi. Pagi yang masih sama seperti biasanya. Hangat karena sinar surya. Tanpa mendung sedikitpun yang tampak menggaggu warna lazuardi itu. Bersih, menentramkan. Jika pagi terus berulang. Maka usiapun akan semakin bertambah. Sejenak kilas balik cerita masa lalu. Ketika kecil, saat masih belum tahu apa-apa. Tak disangka, tanpa terasa aku telah tumbuh dengan baik. Menjadi sosok yang secara fisik dinamakan dewasa. Namun kedewasaan itu relatif. Tak melulu bisa diukur dengan kematangan fisik saja. Penampilan luar kadang tak seperti apa yang ada di dalam, yang tersimpan. Seperti aku yang sekarang ini. Usia yang hampir seperempat abad, apa yang disebut kedewasaan ini belum terpatri terukir dalam jiwaku yang sesungguhnya. Belum tercermin dalam setiap sikap. Kurasa.
“Assalamu’alaikum..!!!”
Kusaut hanphone dalam tas ku. Tidak ada. Ku keluarkan semua isi tas. Dan berantakan. Kebiasaan burukku berulang, menjadi yang paling tidak rapi.
“Huftt..sms dari siapa sih?”
Aku mulai membacanya. Memahami setiap kata yang tertulis disana. Menatap dengan serius. Aku terbelalak, kaget. Kulempar ponsel ku di atas kasur. Terdiam dan menatap posel yang sudah tergeletak jauh dariku. Ku dekati, kuambil dan kubuka kembali isi sms tadi.

“afwan, ada yang ingin kenalan dengan antum, nanti kapan-kapan ngobrol bareng ya, saya temeni, syukron...”

Mulai panas dingin. Agak bengong, tapi belum sampai hilang akal untungnya. Sms dari rekan kerja. Yang tak disangka ingin mengenalkan rekannya juga kepadaku. Apa yang harus kulakukan?! Aku ini, apa udah pantas menghadapi yang seperti ini? memang sih  di saat kulantunkan doa-doaku tak lupa kusisipkan doa tentang hal semacam itu. Tapi apa ini gak terlalu cepat?
            Aku begitu hebring menyikapi tawaran yang datang. Baru diajak kenalan saja sewotnya minta ampun. Haduhh ... aku nggak pandai bersikap jika dihadapkan pada hal semacam ini. Ku galaukan hatiku ini padaNya, lagi. Dan ku ceritakan hal ini pada sahabatku dengan maksud mencari saran yang baik untukku. “Hadapi dengan bijak!” itu saja katanya. Jika sudah ada yang menanyakan, itu tandanya sudah saatnya kamu harus lulus dari status jomblomu dan menyandang gelar yang baru. Seperti air yang mengalir, jika jodoh, pasti semua akan dilancarkan sama Allah. Insyallah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar