Galauku
Pada-Mu
Oleh:
Latiefah Hidayatun
Sendiri itu happy.
Sendiri bukan berarti sepi. Jika perempuan seusiaku sudah pada punya teman.
Teman dalam tanda kutip maksudnyaa. Aku sih biasa-biasa saja dengan kesendirian
ini. Yang mereka bilang sendiriku adalah jomblo sejati. Tak apalah...yang
penting aku happy.
Jika kebanyakan
perempuan menganggap bahwa berduaan dengan kekasihnya adalah sesuatu yang
romantis. Menurutku itu salah besaaar!! Itu bukan romantis namanya, tapi lebih
ke hororr. Kenapa? Mereka gak tau aja, ada banyak setan yang mengelilingi
mereka. Hiiihhh...serreeemmm.
Hal yang paling
romantis dalam versiku adalah saat kamu bisa berduaan dengan sang Maha Cinta,
sang pemilik cinta itu sendiri. Bisa sharing banyak hal. Berkeluh kesah apapun.
Memohon apapun. Semua akan diberikan yang terbaik untuk kita. Karena Dia tidak
akan eman memberikan semuanya jika itu yang terbaik untuk kita. Tidak
ada rasa tersakiti jika kita bisa mencintaNya dengan tulus. Yang ada adalah
ketentraman hati untuk mengisi dan menjalani cerita hidup ini. aku menyadari,
bahwa aku sangatlah bergantung padaNya. Dalam memutuskan segala hal. Terutama
apa yang sedang ku alami saat ini. Dan galau ku hanya padaNya.
Masih menatap pagi.
Pagi yang masih sama seperti biasanya. Hangat karena sinar surya. Tanpa mendung
sedikitpun yang tampak menggaggu warna lazuardi itu. Bersih, menentramkan. Jika
pagi terus berulang. Maka usiapun akan semakin bertambah. Sejenak kilas balik
cerita masa lalu. Ketika kecil, saat masih belum tahu apa-apa. Tak disangka,
tanpa terasa aku telah tumbuh dengan baik. Menjadi sosok yang secara fisik
dinamakan dewasa. Namun kedewasaan itu relatif. Tak melulu bisa diukur dengan
kematangan fisik saja. Penampilan luar kadang tak seperti apa yang ada di
dalam, yang tersimpan. Seperti aku yang sekarang ini. Usia yang hampir
seperempat abad, apa yang disebut kedewasaan ini belum terpatri terukir dalam
jiwaku yang sesungguhnya. Belum tercermin dalam setiap sikap. Kurasa.
“Assalamu’alaikum..!!!”
Kusaut hanphone
dalam tas ku. Tidak ada. Ku keluarkan semua isi tas. Dan berantakan. Kebiasaan
burukku berulang, menjadi yang paling tidak rapi.
“Huftt..sms dari siapa sih?”
Aku mulai membacanya.
Memahami setiap kata yang tertulis disana. Menatap dengan serius. Aku
terbelalak, kaget. Kulempar ponsel ku di atas kasur. Terdiam dan menatap posel
yang sudah tergeletak jauh dariku. Ku dekati, kuambil dan kubuka kembali isi
sms tadi.
“afwan, ada yang ingin kenalan dengan
antum, nanti kapan-kapan ngobrol bareng ya, saya temeni, syukron...”
Mulai panas dingin.
Agak bengong, tapi belum sampai hilang akal untungnya. Sms dari rekan kerja.
Yang tak disangka ingin mengenalkan rekannya juga kepadaku. Apa yang harus
kulakukan?! Aku ini, apa udah pantas menghadapi yang seperti ini? memang
sih di saat kulantunkan doa-doaku tak
lupa kusisipkan doa tentang hal semacam itu. Tapi apa ini gak terlalu cepat?
Aku
begitu hebring menyikapi tawaran yang datang. Baru diajak kenalan saja sewotnya
minta ampun. Haduhh ... aku nggak pandai bersikap jika dihadapkan pada hal
semacam ini. Ku galaukan hatiku ini padaNya, lagi. Dan ku ceritakan hal ini
pada sahabatku dengan maksud mencari saran yang baik untukku. “Hadapi dengan
bijak!” itu saja katanya. Jika sudah ada yang menanyakan, itu tandanya sudah
saatnya kamu harus lulus dari status jomblomu dan menyandang gelar yang baru. Seperti
air yang mengalir, jika jodoh, pasti semua akan dilancarkan sama Allah.
Insyallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar